Thursday, 20 December 2012

No Name

Aku sangat tercengang, ya, tercengang melihat fakta-fakta yang telah terungkap dari bibir manisnya itu. Setelah sekian lama fakta demi fakta itu terkunci rapat-rapat diujung lidahnya, akhirnya, dia telah membuka kunci lidahnya dan membiarkan fakta-fakta itu kutahui. Aku tak menyangka sekaligus terkesan dengan apa yang sebenarnya terjadi, tentang hal yang (awalnya) kupikir takkan pernah terjadi.

Ternyata benar, ketika Allah memberikan kita sebuah cobaan, maka Allah sedang berbicara kepada kita bahwa ia menjanjikan kebahagiaan di seberang sana. Dan Ketika cinta itu pergi, tanpa kita sadari, cinta lain telah menunggu untuk menyebarkan harumnya. Aku tersadar, seperti seekor beruang yang telah terbangun dari tidur panjangnya, dari mimpi-mimpinya yang semu.

Aku sangat tercengang, ketika ternyata dialah yang benar-benar berkorban untukku. Dialah yang rela menahan segala penderitaan demi sahabatnya, dengan tanpa rasa bosan dia setia mendengarkan celotehan demi celotehan yang keluar dari bibirku, yang secara tidak langsung merupakan goresan luka yang menancap di hatinya. Tetapi lihatlah, keikhlasannya membuat goresan demi goresan itu tak berarti.

Sampai suatu ketika, cinta mendepakku keluar dari surganya. Menyungkurkanku ke dalam sebuah ruang yang kosong, tak berpenghuni. Dan satu per satu sinar terang itu membayangi ruang gelap nan sepi itu. Yang satu menghapus butiran air mata, yang satunya membantuku berdiri, dan YANG SATU ITU memapahku dan membawaku keluar, ke suatu tempat yang serupa; indah dan tentram.

Ternyata dia, ya, dia yang sering tersakiti itulah yang memapahku keluar dari ruang nan gelap itu (setelah sahabat-sahabatku). Dan pengorbanannya jelas sekali. Dari situ aku tersadar, dia pula lah yang menangkapku ketika cinta itu menghempaskanku.

No comments:

Post a Comment