Monday, 17 December 2012

AAAAARRGGHHH!

Sulit digambarkan. Apa yang kurasa sekarang kiranya hanya Allah dan hati itu sendiri saja yang tau. Keterpurukan demi keterpurukan yang melanda diriku memang membuatku seakan ditendang oleh dunia. Apa yang dunia berikan kepadaku sangatlah tak pantas. Tak pantas bagi seorang anak manusia yang telah diberi amanat untuk melangsungkan apa yang ada, melanjutkan apa yang belum terselesaikan, dan menjadi cerminan masa depan orang-orang sebelumnya. 

Entah mengapa perasaanku saat ini sangat tak menentu. Aku tau, mungkin ini adalah serpihan-serpihan hatiku yang hancur sebulan yang lalu (mungkin kurang dari sebulan), serta kegalauan yang bermunculan ketika ada seseorang yang mencoba mencari dimana serpihan-serpihan itu berada dan akan mengembalikannya ke tempatnya semula. Mungkin hal ini sering sekali dirasakan oleh setiap orang. Ya, disaat kita sedang hancur, there must be that one who always try to fix up your broken heart. Dan orang itulah yang sebetulnya membuat perasaan galau ini makin menjadi-jadi. Karena kita sama sekali tidak tau dan tidak mengerti kemana kita harus berjalan. Apakah kita tetap dengan pendirian? atau kita segera move on? kalau kita mencoba move on, bagaimana citra kita nanti? baik? atau buruk?. Perasaan ini membuatku kepalaku seolah ingin pecah, layaknya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki yang diluncurkan sekutu. 

Mengapa dia datang disaat yang begitu tepat? saat hatiku sedang hancur, saat ketakutan selalu bergentayangan siang dan malam, saat aku mencoba untuk tidak membuka pintu hatiku pada siapapun. Tetapi, lihatlah dia. Dia datang penuh keikhlasan, mengulurkan tangannya agar aku bisa bangkit, menyodorkan bahunya untuk dihujani dengan ribuan butir air mata, air mata yang tercurah akibat luka yang tak bisa dilukisan oleh sepatah katapun. Dia membuatku seakan hidup kembali. Membuatku yakin bahwa aku tak sendiri. Dan apa yang harus aku lakukan sekarang?. Hatiku sudah terlampau sakitnya. Aku tak berani masuk kedalam cinta yang lain lagi, dan aku tak siap untuk didepak keluar oleh luka yang sama. Dan aku tidak ingin sepatah kata cinta membuat persahabatanku dengannya hancur. Walau sejujurnya aku tau, aku paham, aku mengerti mau hati ini. HATI INI MENGINGINKANNYA! namun aku belum siap untuk semua luka yang mungkin akan digoreskan kembali.

No comments:

Post a Comment