Apalagi yang harus ku goreskan kali ini? aku tak akan pernah tahu. Aku bimbang. Seperti seekor anak kucing yang mencari induknya entah kemana. Sudah terlalu banyak yang kupendam di dasar hati dan pikiranku. Kerasnya hidup yang kupunya membuatku rindu akan ketenangan. Aku terjebak di dalam gudang kegalauan. Sehingga asap kegundahan membuatku sesak. Terlalu banyak cerita tak sampai. Terlalu banyak luka berserakan. Sampai-sampai lisan ini tak dapat menggambarkannya barang dalam satu kata pun.
Mungkin aku terlalu naif. Aku tak berani menyampaikan apapun yang terjadi kepada siapa-siapa yang ada. Aku takut. Bahkan terlalu penakut karena aku tak ingin goresan itu menampakan dirinya kembali. Ketika dunia mencampakkanku, aku hanya bisa menelan pil kepahitan yang disuguhkan dunia pada diriku. Hingga aku tersungkur jauh dari muka dunia. Aku terperosok dalam, jauh kedalam perut bumi tanpa bisa menyentuh dasarnya. Hatiku memekik sekencang-kencangnya dan berharap agar pekikan itu dapat membangunkan siapapun yang ada untuk membantuku berdiri. Tetapi pekikan demi pekikan itu tak satupun didengar.
Aku bertanya pada semua elemen di muka bumi ini, "Apa yang sebenarnya terjadi? apa aku pantas mendapatkan kebahagiaan itu?". Aku merasa selalu ada luka di setiap hela nafas yang kuhembuskan. Di setiap senyum yang kulemparkan pada dunia, selalu ada satu titik lemah yang memaksaku untuk menyerah. Aku tidak dapat berbuat apapun. Aku tidak dapat bernyanyi selantang dulu. Syair-syair hati itu hanya dapat kusimpan rapat-rapat di dasar jiwa. Tak ada barang satu orangpun yang mau datang dan membantuku walau hanya untuk meminjamkan bahunya agar aku bisa membasahinya dengan butiran air mata yang menghujaniku. Apa aku yang harus mendatangi mereka? mengemis akan belas kasih mereka? tidak mungkin!. Aku tidak akan bisa percaya pada mereka. Dan mereka takkan pernah mengerti syair-syair itu. Hanya ada satu orang di dunia ini yang mengerti betul akan syair-syair itu, tetapi seseorang itu telah pergi meninggalkan kerak bumi ini dan hanya bisa menyaksikan dari dimensi lain. Semenjak kepergiannya, aku tak pernah lagi menyanyikan syair-syair itu kepada siapapun. Karena aku tahu betul bahwa mereka takkan pernah memahaminya.
Pekikan demi pekikan, syair demi syair yang menghujani lahan hati ini, sekarang hanya bisa kugoreskan di atas kertas ini. Entah sampai kapan. Mungkin sampai mereka benar-benar lepas dari dalam diriku. Sampai dunia yang mempersilahkanku untuk keluar dari dimensi ini.

No comments:
Post a Comment