Wednesday, 30 January 2013

Aktris Yang Handal

Aku ingat,
senyumnya dibalik ribuan tetes air mata itu.
Masih kulihat,
tawanya diantara ribuan tangis yang terisak.

Wajahnya pucat,
memendam jutaan cerita yang abstrak,
menelan berliter cacian yang dikirimkan logika pada dirinya,
dan aku pun tau, logika musuh terbesarnya

Milyaran luka tergores pada dinding hatinya yang lembut,
tetapi kurasa, ia aktris yang professional memerankan skenario yang dikirimkan hati serta pikiran kepadanya, bagaimana tidak?
dengan rapihnya ia tutup rapat-rapat milyaran tangis yang selalu mendesak untuk membeludak,
dengan pandainya ia berkata "semua baik-baik saja" padahal matanya mengisyaratkan sesuatu telah terjadi padanya

Kau boleh menjadi aktris di panggung sandiwara termegah ini,
kau boleh mengelak isyarat setiap mili air matamu untuk menggerayangi setiap inci wajahmu yang pucat
tetapi, ingatlah,
hatimu itu hatiku, matamu juga mataku, jadi, aku tak dapat dengan mudah kau bohongi!

Tuesday, 29 January 2013

*Wuinngggg* TIRED, HAPPY, EMBARRASSED.

Apa kabar halaman kosong? yaa aku harap kau selalu dalam keadaan baik. Sudah beberapa hari ini aku tidak menggoreskan huruf-huruf di lamanku tercinta ini. Ya, maklum sajalah, aku ini sudah kelas 12, tinggal hitungan bulan aku sudah melepas masa SMA yang teramaaaaat indah. Dan kurasa, banyak cerita yang kualami hari ini, dan tentunya..hari-hari sebelumnya. Tetapi aku hanya sedikit malas untuk menceritakan kejadian beberapa hari kebelakang karena aku sudah lupa ahhahaaaa. 

Anyway, hari ini begitu melelahkan, menyenangkan, sekaligus memalukan. Pasalnya, hari ini aku sangat enjoy dengan pertandingan basket antar sekolah yang diselenggarakan di kotaku ini. Walau sekolahku gagal, tapi pertandingan kali ini cukup menyenangkan. Dan kau tau, aku bertemu dengan sepupuku tadi. Sayangnya, tugas-tugas menungguku di rumah, jadi aku tak sempat bercengkrama dengannya. Padahal kalau tadi itu ada waktu, aku ingin bercerita banyak padanya, tetapi yaahhh, "timing" nya gak pas. 

Selain itu, tadi siang pacarku menjemputku untuk pergi menyaksikan pertandingan itu, kami datang terlambat, karena aku baru sampai rumah jam 1 siang, sedangkan jam 1 siang sudah dimulai. Kau tau, dalam keterburu-buruanku tadi siang, aku keluar rumah, dengan baju zebra lengan panjang, jeans hitam, sepatu crocs manlindi, dan rambut layer pendek ala Kugy Karmachameleon, aku melangkah keluar rumah menuju pintu masuk perumahanku, dan ternyata, yang kudapati *DING!* pacarku dan mantanku sedang mengobrol di pintu masuk itu! aku sontak terkejut, seperti kehabisan nafas, kurasa aku butuh tabung oksigen pada saat itu. Aku sudah tidak tau harus menaruh muka ini dimana. Bahkan di bokongku sendiri tidak bisa karena saking malunya. Memang sih, siang itu mantanku sms, dia bilang mau ngomong sesuatu, tetapi dia tidak mengabari aku kalau ia mau datang. Apa ini modus? ini terdengar memalukan! apa maksudnya dia datang seperti itu? mendadak!. Apa dia tidak merasa malu? aku saja malu >.< dan kau tau, aku sampai tidak tau harus bilang apalagi padamu, saking malunya! aaaaaaaa boleh aku minta air?

Monday, 21 January 2013

APA MAKSUDNYA!

Dan lagi-lagi aku terjebak dalam ruang gelap yang terpencil. Ceritanya sangat panjang, dan kurasa aku harus memberitahumu mengapa aku bisa ada di ruang ini. Seperti biasa, kuharap kau tak bosan mendengarkan curhatan gadis 17 tahun yang isinya kegalauan demi kegalauan yang tak berujung. Dan kuharap pula setelah ini, aku bisa merasa lebih baik.

Kau tau ceritaku sebelumnya kan? Ya, mantan pacarku mencampakkanku, aku dikacangin, dan tidak diberi kabar barang hanya dimana dan sedang apa dia saat itu. Dia terlalu sibuk dengan urusannya dan dia menjadikan itu sebagai alasan mengapa dia jarang mengabariku. Awalnya, aku mencoba sabar dan mengerti, tetapi lama kelamaan, kesabaran dan pengertian itu pudar, dan ternyata aku tersadar bahwa aku tidak lebih penting dari urusannya itu. Jadi, untuk apa aku menahan sakitnya dicampakan? itu hanya akan membuatku gerah!. So, aku memutuskan untuk mengakhiri 19 bulan yang penuh kenangan itu. Tepat tanggal 23 november (19 bulan anniv kita) aku memutuskannya. Mungkin ini terdengar sadis, tetapi dia sendiri yang menciptakan kesadisan itu, bukan? bagaimana tidak? kalau saja ia tak mencampakkanku seperti itu, pastinya kesadisan itu tidak akan pernah terjadi.

Kegalauan itu perlahan terobati oleh teman-temanku. Mereka melakukan berbagai hal untukku agar kegalauanku bisa disembuhkan atau minimal dikurangi. Dan salah satu dari mereka adalah teman sekelasku sendiri. Yang sekarang menjadi pacarku. Dia baik, bahkan terlalu baik. Kami mempunyai banyak kesamaan; Sama-sama tau rasanya ditinggal salah satu dari orang tua, sama-sama punya saudara kembar, dan banyak lagi. Maka dari itu kami sering sharing di kelas, belajar bersama dengan 2 orang teman kami yang lain. Awalnya aku tak menyangka bahwa perempuan yang ia ceritakan selama ini adalah diriku. Dia bilang bahwa dia naksir cewek yang sudah punya cowok. Dan semua itu terungkap ketika kami dan teman-teman yang lain bermain truth or dare, dan ia mengakui itu. Tanpa sengaja, kami menuliskan cerpen yang berkesinambungan ketika mendapat tugas dari guru kami. Cerita yang menggambarkan isi hati masing-masing.

Setelah berbulan-bulan, mantanku menghubungiku lagi. Aku sendiri tak mengerti, mengapa aku harus membalas smsnya. Yang seharusnya itu tak perlu kulakukan. Aku merasa seperti cewek sialan yang tak tau diri. Aku seharusnya menghargai perasaan pacarku, tetapi di lain sisi, aku tak ingin dibenci, aku tak ingin mempunyai musuh. Aku membalas smsnya bukan karena aku MASIH SAYANG, tetapi karena aku tak mau menyakiti siapapun. Mungkin banyak yang bilang aku menangis di atas penderitaan orang lain, tetapi ingatkah dia tentang suatu hal? ketika aku menangis dan membutuhkannya berada di sisiku, DIA ASYIK DENGAN URUSANNYA SENDIRI! dia mendiamkanku, tak pernah memberi kabar, dan sekarang, ketika aku sudah move on, dia datang dan mungkin berkata dalam hatinya bahwa aku ini perempuan tak tau diuntung!.

Dan baru saja tadi, aku melihat status mantan dan pacarku di facebook. Aku melihat ada suatu kejanggalan. Mantanku bilang bahwa dia "nyesek" melihat keberadaan "nya" dan mungkin "nya" disitu adalah aku, tetapi ia juga rindu. Dan pacarku bilang bahwa ia tidak tertawa diatas penderitaan orang lain. 

Jika memang ada sesuatu diantara mereka, entah itu pertengkaran atau apapun, aku tidak akan segan-segan mengambil langkah untuk. TIDAK BERPIHAK PADA KEDUANYA!. Yang berarti, aku memutuskan pacarku, dan aku TAK KEMBALI pada mantanku.

Thursday, 17 January 2013

Yang Tertahan

Ribuan tetes air mata langit melarutkanku dalam keheningan tiada berujung,
Membuat siang hari enggan menampakan senyumnya
Aku terbuai lamunan panjang, serta fantasi yang membawaku seakan berada di dekatmu
Entah dimana aku berada, tetapi, setiap inci sosokmu, terasa begitu nyata.

Dan kita terlarut dalam diam,
duduk berdampingan dengan ribuan kata tertahan diujung lidah
Dinding pembatas ini membuat semua tertahan: kebersamaan kita, kenangan kita, serta segalanya tentang kita.

Dalam syahdunya nyanyian hujan,
Kata-kata itu datang, membelaiku yang berada dalam dimensi yang berbeda denganmu
Suara itu terngiang, membuat darahku berdesir, menjalar hangat di setiap inci tubuhku
Bibirku tergetar, satu per satu air mata menggerayangi wajahku

Pemilik nyawaku,
Akankah Kau hancurkan dinding ini? Dinding yang memisahkan kami dalam kesunyian
Adakah disana dia rasakan keberadaanku? Yang terlalu lama terdampar dalam lautan luka
Pertemukanlah kami, dan biarkan goresan tinta ini menjadi jawaban, atas semua kata yang tertahan lama di ujung lidah ini.
Dan, sampaikan rinduku untuknya :)

Curhat a lil bit

Rasanya, luar biasa sekali. Menjadi siswi kelas 12 dengan beragam kesibukan yang ada. Mulai dari morning test, latihan-latihan, tugas, dan berbagai persiapan ujian nasional. Aku tak menyangka ternyata perisapan ujian nasional tak semudah yang kubayangkan. Bahkan sangat berbeda dengan persiapan saat aku masih duduk di kelas 9 SMP. Kali ini, "sibuknya sangat berasa".

Selain persiapan ujian nasional, ada satu hal yang (bagi banyak orang) menjadi pengganggu. Hujan. Aku sendiri tak mengerti kenapa orang-orang segitu bencinya sama hujan. Padahal, kalau boleh jujur, aku lebih suka hujan ketimbang kemarau. Karena, aku bisa menemukan kesejukan dan ketenangan hanya saat hujan. Dan suasana hujan itu adalah suasana paling romantis. Hanya saat hujan turun, inspirasi seakan memadati pikiranku, melompat girang di pikiranku. sampai-sampai aku tidak tau bagaimana menumpahkannya. Benar-benar januari yang menyejukan hati.

Oh iya, berhubung sekarang tahun baru, aku juga mempunyai sesuatu yang baru dalam diriku. YES! my new haircut. Banyak yang mengeluh "sayang ren, kalau dipotong, rambutmu udah bagus panjang" tetapi apa daya, aku butuh suasana baru, suatu gebrakan yang belum pernah kubuat. Alhasil, aku memotong pendek rambutku. Rambut yang tadinya tergerai panjang hampir sepinggang itu, kini telah berubah wujud menjadi mahkota sebahu. Dan aku penasaran, apa tanggapan teman-temanku di sekolah nanti ya?


Sunday, 13 January 2013

Sajak Impian

Wahai untaian kata,
adakah diantara kalian yang mengerti arti dari semua ini?
adakah sepercik kebahagiaan yang menanti di sebrang sana?
jika ya, sampaikan salamku untuknya,
serta bawalah ia kemari, tepat di hadapku

Jiwa ini layaknya padang gersang
lelah ditimpa panasnya matahari
lelah menunggu hujan itu turun kembali

Jiwa ini seakan tercabik-cabik oleh kejamnya logika
yang senantiasa menentang hati nurani, menentang impian,
Impian besar yang terkubur ratusan mil di dasar jiwa,
tertahan ribuan tahun oleh sang waktu


Saturday, 12 January 2013

Kawan Lama

Terkadang hal yang selalu kita pandang jelek itu tak selamanya benar. Dan apa yang telah terjadi padaku hari ini merupakan bukti otentik yang menguatkan fakta itu. 

Hari ini, minggu kedua di bulan januari, dan masalah serta kawanannya itu satu per satu datang menyapaku layaknya kawan lama. Sebetulnya aku tidak kuat, ingin cepat-cepat mengusir mereka dari hidupku, tetapi mereka tidak mau diusir, mereka bilang "kalau kamu mau usir kami, hidupmu pasti tak akan seindah ini". Ya, mungkin mereka ada benarnya, aku sendiri tak bisa membayangkan hidup tanpa masalah, hahaa pasti garing, tak ada yang ekstrim hahaa.

Apa kamu masih ingat dengan masalah yang pernah kuceritakan padamu beberapa hari yang lalu? Ya, soal guru itu. Tadi siang aku berbicara padanya, awalnya sih, aku dan teman-teman hanya ingin sekedar bertanya mengenai nilai morning test ku, tetapi ia hanya bilang "saya ga akan kasih tau sebelum orang tuamu datang menghadap saya". Dan kata-kata itu pula yang memancingnya untuk bertanya "kenapa orang tuamu tidak jadi datang hari jumat?" pertanyaan itu memancing lisanku untuk mengatakan semuanya. Mengatakan hal yang notabennya sangat pribadi dan sulit untuk kukatakan. "Ya begitulah pak, mereka terlalu sibuk dengan urusan mereka..bla..bla..bla" kuceritakan semuanya panjang lebar sehingga aku tersadar bahwa aku baru pulang dari sana satu jam setelah teman-teman yang lain berpamitan untuk pulang.

Banyak hal yang kudapat dalam obrolan satu jam itu. Tentang perkuliahan, motivasi-motivasi, keluarga, cinta, persahabatan, dan masih banyak lagi. Ternyata seorang guru yang dulu kuanggap kejam, mempunyai satu visi dan tujuan yang tak berbeda dengan guru-guru lain, "melihat anak didiknya maju". Dan kau tau, aku jadi bersemangat untuk belajar lebih giat lg, agar aku bisa mendapatkan apa yang kumau. Agar aku bisa menjadi alasan di balik senyum mereka, senyum indah orang-orang di sekitarku; keluarga, guru-guru, teman-teman, serta masyarakat. 

Dan percayalah, masalah itu akan dengan sendirinya enyah dari hadapan kita. Ketika mereka menyapa, berikanlah senyum terindahmu kepada mereka, perlakukan mereka dengan bijaksana, dan seberapa jauh kau terhempas, bangkitlah, dan berdamailah dengan mereka, karena cepat atau lambat, mereka akan bosan dan pergi untuk mencari kawan baru lagi di luar sana.

Thursday, 10 January 2013

Depressed

Tidak ada yang lebih buruk dari apa yang telah kuhadapi akhir-akhir ini. Masalah dan kawanannya datang bertubi-tubi bak kerikil-kerikil tajam yang berlarian, datang mehantamku dalam ketegangan gempa vulkanik, dan amarah gunung yang mulai membara serta menyeruak tak henti-hentinya. Keadaan ini membuat diriku seperti dikukung oleh berbagai rasa tak menentu; takut, rasa bersalah, sedih, kesal, serba salah, tertekan, merupakan kombinasi yang membuatku muak dengan apapun yang kuhadapi. Aku memang tak sepatutnya berlaku seperti ini, tetapi keadaan membuatku tak tahu lagi harus berbuat apa.

Aku harus berurusan dengan seorang guru, yang mempunyai peranan penting dalam hampir semua aspek. Ia membuat diriku (tidak hanya diriku) merasa serba salah dan tertekan. Bahkan aku tidak seharusnya menulis disini sekarang, seharusnya aku belajar untuk menghadapi morning test untuk mata pelajaran yang diajarnya. Tetapi apa daya, aku takkan pernah menyukai pelajaran itu, dan takkan pernah bisa disetarakan dengan mereka semua yang jenius dan brilian, yang sangat piaway memainkan ratusan digit angka. Aku hanya dapat menulis, dan menumpahkan semuanya dengan goresan kata-kataku yang sederhana. Aku takkan bisa menjadi mereka, menjadi diri orang lain, aku hanya ingin menjadi diriku sendiri, dan menjadi seorang yang brilian dengan CARAKU SENDIRI. Dan tak ada seorang pun yang bisa mengubah itu, kecuali Allah.

Hal lain yang membuat hati dan pikiranku semakin tak menentu ialah, perkataan mantanku yang aku sendiri tak dapat menjamin kebenarannya. Dia mengatakan bahwa ia bertemu dengan mendiang ibuku di dalam mimpinya. Dan mereka bercakap-cakap layaknya kawan lama. Aku bahkan tak mengerti, seluruh jiwa raga ini bertanya-tanya, "apakah dia berkata benar? atau hanya akal-akalannya agar mendapat simpati dariku?", hal ini benar-benar membuatku tak tau harus berbuat apa. Aku seperti berlari mengitari sebuah labirin yang tak kunjung kutemukan jalan keluarnya. Kalaupun memang ada hal penting yang ingin disampaikan, ia pasti langsung mendatangiku, atau keluargaku, bukan orang lain. Aku tau benar dia, wanita yang keras kepala dan tak mudah mepercayakan apapun kepada orang lain, apalagi orang yang belum ia kenal.

Benar atau tidaknya, kuserahkan semua itu kepada pemilik nyawaku. Kalau itu benar adanya, aku hanya ingin berterimakasih atas pengakuan itu, tetapi kalau salah, perkataan demi perkataan itu tak ada gunanya. Dan kuharap, aku bisa lebih tenang, dan tak merasa tertekan seperti ini.

Sunday, 6 January 2013

Jeritan Si Gadis Bodoh

Apakah hati ini belum puas melukai dirinya sendiri? apakah pikiran ini belum juga selesai mengadu domba aku dan diriku sendiri?. Wahai sang pencipta, adakah jalanmu untuk menghentikan derasnya kecaman hati dan pikiran ini? yang terlantur dari getaran bisik setan-iblis yang setiap detik mengiang. Aku ini hanya sesosok gadis kecil yang tak tahu bagaimana harus berbuat. Dan bisikan-bisikan itu benar-benar membuatku gila. Andaikan hati ini bisa kutulikan, akan kulakukan itu semua agar aku tak dapat lagi mendengar bisikan setan-iblis itu. Disinilah masalahnya, mereka berbisik bukan didengar oleh telingaku, melainkan langsung oleh hati dan pikiranku sendiri. Dimana mereka takkan pernah harmonis disaat-saat mencekam seperti ini.

Seperti yang kau ketahui, aku hanyalah seorang gadis biasa, aku bukan bunga sekolah, bukan bunga desa, atau bunga apapun itu, aku juga bukan anak seorang saudagar ataupun priyai. Akan tetapi, aku hanyalah seorang gadis yang selalu tersenyum manis untuk menutupi milyaran luka yang mendesir di setiap mili darahku. Aku mungkin terlalu pengecut untuk menyatakan semua yang kurasakan pada dunia ini. Aku tak berani berbicara barang hanya sepatah katapun. Karena aku terlalu muak pada dunia. Bukan berarti aku tak bersyukur bisa hidup disini, tetapi, aku hanya tak sanggup berperang melawan diriku sendiri, yang sedang berlaga di panggung sandiwara terbesar sepanjang hayat.

Kau tahu, aku tak munafik, aku iri pada mereka. Yang selalu bisa tersenyum selebar-lebarnya. Yang pendapatnya selalu digubris dan tak pernah menggubris pendapatku, pendapat SI GADIS BODOH. Mereka punya kelebihan yang bisa mereka tunjukan dan sombongkan pada dunia ini. Sebagian dari mereka mempunyai ketampanan/kecantikan, kekayaan, popularitas, dan kepintaran. Sedangkan aku, lihatlah aku, hanya sesuatu paling bodoh yang pernah dunia punya. Yang bisanya hanya menangis, merintih, tanpa ada yang peduli. Aku ini sok! sok punya kebisaan, sok punya kepintaran padahal mereka semua NIHIL!.

Mereka yang serba lebih itu mempunyai orang yang selalu mereka banggakan, yang bisa mereka peluk dan cium setiap waktu; mereka mempunyai orang tua, LENGKAP!. Tidak sepertiku, si gadis bodoh. Ayahku tak tinggal disini bersamaku, dan ibuku telah tiada. Aku sendirian! tidak ada yang menemani. Hanya tulisan demi tulisan yang tak bermutu ini saja yang menjadi teman setiaku disaat dunia mengabaikanku. Mereka mempunyai seseorang yang bisa mereka datangi disaat mereka bersedih. Sedangkan aku, seseorang itu telah tiada. Aku hanya inginn jujur, hidupku hancur setelah kepergiannya.

Ya Tuhan, berilah aku pentunjuk, agar aku bisa menterjemahkan semuanya. Agar aku mengerti apa yang sedang kau bicarakan. Dan kumohon, agar kebahagiaan yang kau janjikan dapat kurasakan secepatnya. Amin.

Thursday, 3 January 2013

Aku dan Diriku

Diantara sekian banyak gelak tawa, ada jiwa yang tak mau merasakan indahnya tawa itu. Bukannya tidak mau, tetapi dunia seakan membatasi jiwa itu untuk tertawa selepas-lepasnya. Mungkin dunia memang tak adil, mengapa ia selalu memberikan batasan yang teramat tinggi layaknya benteng di masa peperangan? batasannya, bisa berupa macam-macam batasan: batasan untuk tertawa, tersenyum, bahagia, dan batasan lainnya yang membuat jiwa ini seakan dikekang oleh hal yang mengganggu. Semua batasan itu membuatku bertanya-tanya, "apa yang sebenarnya terjadi? apakah dunia benar mengekangku dari tawa? atau ini hanya pikiranku saja? ya, serpihan-serpihan luka yang tak kunjung membeku". Dan pertanyaan itu terus terngiang di kepalaku, sampai-sampai waktuku terbuang hanya karena pertanyaan yang sebenarnya tak perlu dipertanyakan.

Terkadang, ada saatnya dimana aku merasa sendiri, walaupun aku sedang berada diantara ribuan jiwa. Aku merasa, semua yang keluar dari lisanku ini tak ayalnya sebuah angin lalu bagi ribuan jiwa itu. Ya, aku sadar betul mereka cukup pintar dan bijaksana. Mereka sangatlah hebat. Mereka tak ayalnya wasit dalam pertinjuan, memberi komando pada diriku dan pikiranku untuk berbaku hantam satu sama lain. Bahkan jiwa-jiwa itu takkan pernah mendengar sedikitpun barang hanya satu kata dari lisanku, bahkan mungkin jika aku berteriak sekencang-kencangnya, mereka tidak akan mendengarnya. 

Memang terdengarnya terlalu "negative thinking" tetapi inilah yang sebenarnya aku jeritkan setiap waktu. Yang aku rasakan pada ribuan jiwa itu. Setiap kali aku berada diantara mereka, aku hanya merasa bahwa akulah orang yang paling bodoh, sebodoh-bodohnya orang yang bodoh di dunia ini. Aku tak berani menyuarakan apapun. Hingga ribuan kata itu tertahan lama di ujung lidahku, dan hanya dapat keluar berupa butiran air mata. Jika kau bertanya mengapa aku memilih untuk menahan semuanya, hanya ada satu jawaban, "demi menjaga ketahanan jiwaku". Lebih baik membungkam jika itu dapat membuat semuanya lebih baik. Entah sampai kapan aku harus menahan semuanya. Hanya tulisan inilah yang dapat kutuangkan demi meringankan semua beban yang ada. Entah sampai kapan aku harus berkelana menyusuri padang kenistaan dunia ini, berperang melawan pikiranku sendiri. Entah....entah sampai kapan aku dapat meyatukan suara hati dan pikiranku.

Wednesday, 2 January 2013

Welcoming the new beginning

Hey, apa kabar? i hope you are doing good all the time. Maaf, aku menghilang untuk beberapa saat. I went out of town these days, so i have no time for writting here. Mungkin sudah beberapa hari ini kamu aku tinggalkan, and without no doubt, i'm missing you so much :* :* tetapi sekarang aku sudah pulang dan kita bisa habiskan waktu bersama :D.

Banyak hal yang ingin kusampaikan padamu. Ya, walau liburanku sekarang terlewat sekali singkatnya, setidaknya masih ada cerita di balik singkatnya waktu bermalas-malasan itu. Dan aku sangat bersyukur karena hari-hari membosankan itu membuat kita semakin dekat, blog. Anyway, it's january 2nd already! second day in 2013. 

Is it only me who feels like 2012 went really really fast than ever? well, i think you feel it too, buddy. 2012 terlalu cepat pergi. Bahkan secepat aku memenjamkan mata lalu membukannya kembali. Seperti satu hari yang lewat dengan kecepatan super tinggi. Mungkin ramalan orang-orang indigo itu ada benarnya; "banyak kejadian luar biasa yang menimpa di 2012". Dan aku rasakan itu mengalun indah di setiap titik hariku yang panjang. Contohnya, drama project yang berhasil mempertemukanku dengan sahabat-sahabat yang tulus itu dilakukan di tahun 2012, pada tahun yang sama pula aku mengalami titik balik dari seorang bocah ingusan menjadi seorang gadis 17 tahun, dimana aku telah diakui oleh bangsa ini, dimana aku tak perlu lagi menutup mata ketika menonton adegan kissing dalam film hollywood manapun, banyak juga prestasi yang kubuat di tahun naga itu, mulai dari Englis speach contest sampai teater. Dan di tahun yang sama pula hubunganku dengan mantan kandas. Yang pasti, 2012 itu punya kesan tersendiri untukku. 

Tahun baru berarti awal yang baru. Aku tak mempunyai resolusi yang berlebihan di tahun 2013 ini. Kecuali, lulus UN dan diterima di PTN yang aku mau dengan jurusan SASTRA INGGRIS ahhaha. Dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengambil start, untuk berlari menuju titik finish di seberang sana; titik kesuksesan.