Sore ini hujan turun lagi. Bau basah yang ia ciptakan seakan membawaku pergi ke masa yang berbeda. Milyaran tetesnya bak tangisan langit yang menderu akibat amarah sang awan hitam yang kian membara. Hembusan angin yang mesra membelai tiap inci bumi ini. Suasana hening membuat jiwa ini tak mau beranjak dari peristirahatannya. Suasana syahdu tak ayalnya seperti mesin waktu yang membawa jiwa ini berfantasi menelusuri tiap detik masa lalu, saat ini, dan masa depan.
Tetes demi tetes tangisan langit membuatku rindu akan gelak tawa kemarin. Dan warnanya yang rancu mengingatkanku akan keterpurukan yang tak pernah bisa kulupakan sampai detik ini. Suatu rasa yang tak dapat kulukiskan dengan warna apapun, tak adapat kugoreskan dengan milyaran liter tinta pun, bahkan tak dapat kukatakan barang dengan sepatah kata. Kesedihan 5 tahun lalu membuatku membenci hujan.
Aku lantas pergi ke sebuah tempat; luas nan sepi. Beberapa pasang nama tertulis diantara hamparan tanah yang digelimangi air mata langit. Kakiku berjalan kaku hanya beberapa langkah dari sebuah nama yang terpampang disana. Saat aku berada tepat di depan nama itu, aku terdiam, terpaku. Rintikan hujan seakan membuatku rindu padanya, si pemilik nama tersebut. Diantara deru langit, kupanjatkan seikat doa untuknya. Sebuah nama yang menjadi panutanku, sebuah nama yang menguatkanku menghadang derasnya badai cobaan.
Walau nama itu sudah menjadi hal yang bisu, ia akan tetap menjadi tempatku bersandar di tengah-tengah kelelahan hati. Nama itu pula akan menjadi sesuatu yang membangunkanku di setiap kejatuhan yang menyapa.

No comments:
Post a Comment