Semua diam, tak kudengar se-hertz pun suara yang dipantulkan ke setiap inci ruang ini. Hanya ketidaktahuanku yang berdaya, bangkit menjadi kekuatan besar tak terkalahkan, bahkan oleh sepercik motivasi sekalipun. Aku tak tahu apa yang terjadi pada diri ini. Mengapa mereka kesini? apa yang mereka mau dariku? sudah cukup aku mengalah, membucatkan tiap mili darahku hanya untuk perang semacam ini, perang tanpa lawan. Aku seperti manusia paling bodoh, sebodoh-bodohnya manusia bodoh yang dungu.
Aku mencoba menerka-nerka dan membaca siasat ribuan keparat itu. Tetapi mereka dengan lincahnya bersembunyi, di celah sempit yang tak dapat kujangkau. Mereka memecutku dengan cambuk andalan mereka, cambuk terdahsyat yang pernah ada. Serangan demi serangan..cambukan demi cambukan...terkaman demi terkaman... serat caci-maki yang menusuk dasar jiwaku, berdatangan tanpa henti. Bukannya aku tak berani, bukannya aku pengecut, aku selalu mencoba sekuat hati memberikan serangan balik kepada pasukan keparat itu, tetapi apa daya, mereka jauh lebih kuat. Ketika aku beri mereka seribu cambukan, mereka menyerangku dengan sepuluh kalinya. Ketika aku caci mereka dengan cacian terkejam yang pernah kubuat, mereka mencaciku dengan ribuan kata yang sepuluh kali lebih tajam dari mata Samurai.
Aku rasakan semua serangan ribuan keparat itu, tetapi tetap saja, aku tidak tau siapakah "ribuan keparat" yang selalu menikam. Aku sibuk menangis sampai lautan air mataku menjelma menjadi gurun gersang. Sampai aku tersadar bahwa "ribuan keparat itu"......HATI DAN PIKIRANKU YANG BERGEJOLAK!
No comments:
Post a Comment