Isyarat air mata langit serta amarah guntur di luar jendela kamarku seperti sebuah gertakan. Bagaimana tidak? hujan dan guntur merupakan penggertak yang handal. "Gertakan" yang dikirimkan hujan dan guntur membuat melek mata ini, serta meneganggkan syaraf-syarafku dari ujung kaki ke ujung kepala. Membuat ragaku gemetar serta pikiranku kacau-balau, tidak karuan bak dedaunan kering yang tersapu dinginnya angin sore ini.
Hal ini menggelitik hatiku, untuk menyuratkan bahasa logika yang kacau tadi. Aku membawa mereka dan menterjemahkannya kedalam armada huruf yang berbaris rapih di lapangnya kertas. Walau sebenarnya aku tak tahu kemana armada huruf itu akan pergi, mereka seakan mengikutiku, dari hari ke hari, dalam komando sang logika yang sebenarnya tak dapat kuterjemahkan. Tetapi mereka tak mau tahu, mereka selalu mendesak, bahkan disaat yang tidak tepat; disaat hati dan pikiranku enggan mengeluarkan sepatah katapun.
Tetapi apa daya, hanya ini yang dapat kulakukan untuk membuat semuanya lebih baik. Walau barisan huruf itu tak berarti apa-apa, namun inilah jalan terakhir yang kurasa....harus ditempuh. Ketika aku tak lagi dapat berharap akan uluran tangan-tangan di luar sana, hanya barisan huruf ini yang dapat membantuku memikul berton-ton beban yang menguasai hati dan pikiranku, walau hanya sedikit saja.
No comments:
Post a Comment