Tidak ada yang lebih buruk dari apa yang telah kuhadapi akhir-akhir ini. Masalah dan kawanannya datang bertubi-tubi bak kerikil-kerikil tajam yang berlarian, datang mehantamku dalam ketegangan gempa vulkanik, dan amarah gunung yang mulai membara serta menyeruak tak henti-hentinya. Keadaan ini membuat diriku seperti dikukung oleh berbagai rasa tak menentu; takut, rasa bersalah, sedih, kesal, serba salah, tertekan, merupakan kombinasi yang membuatku muak dengan apapun yang kuhadapi. Aku memang tak sepatutnya berlaku seperti ini, tetapi keadaan membuatku tak tahu lagi harus berbuat apa.
Aku harus berurusan dengan seorang guru, yang mempunyai peranan penting dalam hampir semua aspek. Ia membuat diriku (tidak hanya diriku) merasa serba salah dan tertekan. Bahkan aku tidak seharusnya menulis disini sekarang, seharusnya aku belajar untuk menghadapi morning test untuk mata pelajaran yang diajarnya. Tetapi apa daya, aku takkan pernah menyukai pelajaran itu, dan takkan pernah bisa disetarakan dengan mereka semua yang jenius dan brilian, yang sangat piaway memainkan ratusan digit angka. Aku hanya dapat menulis, dan menumpahkan semuanya dengan goresan kata-kataku yang sederhana. Aku takkan bisa menjadi mereka, menjadi diri orang lain, aku hanya ingin menjadi diriku sendiri, dan menjadi seorang yang brilian dengan CARAKU SENDIRI. Dan tak ada seorang pun yang bisa mengubah itu, kecuali Allah.
Hal lain yang membuat hati dan pikiranku semakin tak menentu ialah, perkataan mantanku yang aku sendiri tak dapat menjamin kebenarannya. Dia mengatakan bahwa ia bertemu dengan mendiang ibuku di dalam mimpinya. Dan mereka bercakap-cakap layaknya kawan lama. Aku bahkan tak mengerti, seluruh jiwa raga ini bertanya-tanya, "apakah dia berkata benar? atau hanya akal-akalannya agar mendapat simpati dariku?", hal ini benar-benar membuatku tak tau harus berbuat apa. Aku seperti berlari mengitari sebuah labirin yang tak kunjung kutemukan jalan keluarnya. Kalaupun memang ada hal penting yang ingin disampaikan, ia pasti langsung mendatangiku, atau keluargaku, bukan orang lain. Aku tau benar dia, wanita yang keras kepala dan tak mudah mepercayakan apapun kepada orang lain, apalagi orang yang belum ia kenal.
Benar atau tidaknya, kuserahkan semua itu kepada pemilik nyawaku. Kalau itu benar adanya, aku hanya ingin berterimakasih atas pengakuan itu, tetapi kalau salah, perkataan demi perkataan itu tak ada gunanya. Dan kuharap, aku bisa lebih tenang, dan tak merasa tertekan seperti ini.
No comments:
Post a Comment