Dan lagi-lagi aku terjebak dalam ruang gelap yang terpencil. Ceritanya sangat panjang, dan kurasa aku harus memberitahumu mengapa aku bisa ada di ruang ini. Seperti biasa, kuharap kau tak bosan mendengarkan curhatan gadis 17 tahun yang isinya kegalauan demi kegalauan yang tak berujung. Dan kuharap pula setelah ini, aku bisa merasa lebih baik.
Kau tau ceritaku sebelumnya kan? Ya, mantan pacarku mencampakkanku, aku dikacangin, dan tidak diberi kabar barang hanya dimana dan sedang apa dia saat itu. Dia terlalu sibuk dengan urusannya dan dia menjadikan itu sebagai alasan mengapa dia jarang mengabariku. Awalnya, aku mencoba sabar dan mengerti, tetapi lama kelamaan, kesabaran dan pengertian itu pudar, dan ternyata aku tersadar bahwa aku tidak lebih penting dari urusannya itu. Jadi, untuk apa aku menahan sakitnya dicampakan? itu hanya akan membuatku gerah!. So, aku memutuskan untuk mengakhiri 19 bulan yang penuh kenangan itu. Tepat tanggal 23 november (19 bulan anniv kita) aku memutuskannya. Mungkin ini terdengar sadis, tetapi dia sendiri yang menciptakan kesadisan itu, bukan? bagaimana tidak? kalau saja ia tak mencampakkanku seperti itu, pastinya kesadisan itu tidak akan pernah terjadi.
Kegalauan itu perlahan terobati oleh teman-temanku. Mereka melakukan berbagai hal untukku agar kegalauanku bisa disembuhkan atau minimal dikurangi. Dan salah satu dari mereka adalah teman sekelasku sendiri. Yang sekarang menjadi pacarku. Dia baik, bahkan terlalu baik. Kami mempunyai banyak kesamaan; Sama-sama tau rasanya ditinggal salah satu dari orang tua, sama-sama punya saudara kembar, dan banyak lagi. Maka dari itu kami sering sharing di kelas, belajar bersama dengan 2 orang teman kami yang lain. Awalnya aku tak menyangka bahwa perempuan yang ia ceritakan selama ini adalah diriku. Dia bilang bahwa dia naksir cewek yang sudah punya cowok. Dan semua itu terungkap ketika kami dan teman-teman yang lain bermain truth or dare, dan ia mengakui itu. Tanpa sengaja, kami menuliskan cerpen yang berkesinambungan ketika mendapat tugas dari guru kami. Cerita yang menggambarkan isi hati masing-masing.
Setelah berbulan-bulan, mantanku menghubungiku lagi. Aku sendiri tak mengerti, mengapa aku harus membalas smsnya. Yang seharusnya itu tak perlu kulakukan. Aku merasa seperti cewek sialan yang tak tau diri. Aku seharusnya menghargai perasaan pacarku, tetapi di lain sisi, aku tak ingin dibenci, aku tak ingin mempunyai musuh. Aku membalas smsnya bukan karena aku MASIH SAYANG, tetapi karena aku tak mau menyakiti siapapun. Mungkin banyak yang bilang aku menangis di atas penderitaan orang lain, tetapi ingatkah dia tentang suatu hal? ketika aku menangis dan membutuhkannya berada di sisiku, DIA ASYIK DENGAN URUSANNYA SENDIRI! dia mendiamkanku, tak pernah memberi kabar, dan sekarang, ketika aku sudah move on, dia datang dan mungkin berkata dalam hatinya bahwa aku ini perempuan tak tau diuntung!.
Dan baru saja tadi, aku melihat status mantan dan pacarku di facebook. Aku melihat ada suatu kejanggalan. Mantanku bilang bahwa dia "nyesek" melihat keberadaan "nya" dan mungkin "nya" disitu adalah aku, tetapi ia juga rindu. Dan pacarku bilang bahwa ia tidak tertawa diatas penderitaan orang lain.
Jika memang ada sesuatu diantara mereka, entah itu pertengkaran atau apapun, aku tidak akan segan-segan mengambil langkah untuk. TIDAK BERPIHAK PADA KEDUANYA!. Yang berarti, aku memutuskan pacarku, dan aku TAK KEMBALI pada mantanku.
No comments:
Post a Comment